Selasa, 14 April 2015

Dikira Mau Mencuri Motor, Ternyata “Curi” Bini Orang

MALAM sudah demikian larut, kok ada orang mau ambil motor di parkiran pasar. Saniman, 52, pun ditangkap para peronda. Ternyata dia bukan pencuri motor, melainkan “pencuri” bini orang. Soalnya dia baru saja kencan dengan Ny. Lasmiyah, 38, yang rumahnya tak jauh dari pasar. Wah, urusan menjadi makin berat! Suami yang jauh istri, dan istri yang jauh dari suami, menciptakan manusia-manusia yang kesepian di tempat ramai. Bagi yang imannya kuat, dia akan mengisinya dengan kesibukan lain. Tapi bagi yang lebih kuat “si imin”-nya, ya mencari pelampiasan ke tempat lain. Sukur-sukur klop ketemu orang yang senasib sepenanggung, sehingga tak keberatan diajak untel-untelan dalam sarung. Adalah Saniman, warga Cokrodiningratan Kecamatan Jetis, kota Yogyakarta. Sudah beberapa tahun ini dia banyak “nganggur”-nya, karena istri menjadi TKW di Timur Tengah. Sebagai lelaki normal, usia kepala lima lumayan hotlah mustinya. Tapi karena tak ada istri, dia jadi “ngaplo” berkepanjangan. Kalau urusan makan, tak ketemu nasi bisa makan balok (singkong goreng) atau gethuk. Lha kalau urusan keperempuanan, mau ke mana? Ke Pasar Kembang? Kan sudah lama ditutup oleh Pemda DIY. Mau nglamar janda Winalia dari Kalasan yang masih mak nyusss, duitnya mana cukup? Wong janda kempling itu pasang harga Rp 999 juta. Akhirnya Saniman hanya bisa ngedumel, “Ah ada-ada saja ulah perempuan kemayu ini. Hanya mau jual rumah saja kok dikait-kaitkan dengan rumah “si burung” kaum lelaki.” Di kala kepala Saniman semakin pusing mau meledak rasanya, eh…..dia dapat kenalan baru, Ny. Lasmiah, warga Sendangsari, Minggir, Yogyakarta kulonan. Ternyata wanita beranak tiga itu juga seperti dirinya, ditinggal suami jadi TKI ke luar negri. “Udahlah Bleh, mumpung sama-sama senasib sepenanggung, lebih baik langsung saja masuk sarung,” begitu kata setan memanas-manasi. Ternyata hati nurani kalah kuat dengan hati iblis. Karenanya perkenalan dengan Lasmiah diintensifkan, apa lagi pihak perempuan sepertinya juga sangat memahami aspirasi urusan bawah Saniman. Sejak itu dia jadi rajin berkunjung ke rumah Lasmiah. Kadan naik angkot Yogya – Dekso, paling sering naik sepeda motor. Bagi orang sedang kasmaran, Tugu – Minggir yang berjarak 15 Km bukanlah jarak yang jauh, wong tinggal ngulon bener tak perlu menggok-menggok. Rumah Lasmiah memang memiliki pintu belakang, lewat halaman yang luas. Walhasil meski ada anak-anak nonton TV di rumah depan, Lasmiah bisa melayani Saniman dengan seksama dalam tempoh sesingkat-singkatnya, lewat pintu belakang tersebut. Setelah selesai “tune up” sekaligus amplas platina, Saniman ambil sepeda motornya yang diparkir di Pasar Minggir, tak jauh dari rumah Lasmiah. Cara demikian bila mana kondisi keuangan sedang tidak mengizinkan, Bila pas kantong penuh, Saniman memuaskan kantong kemih bersama Lasmiah ke hotel di kawasan Kaliurang, di kakinya Gunung Merapi. Rasanya sungguh “laras tenan”, anget-angetan di dinginnya udara pegunungan. Dua-duanya sama-sama puas, karena Saniman juga masih rosa-rosa macam Mbah Marijan penunggu Merapi almarhum. Tapi sial beberapa hari lalu. Pas kangen Lasmiah tapi kantong bokek, dia hanya melampiaskan hasratnya ke rumah sang WIL di dekat Pasar Minggir tersebut. Sepeda motor ditinggal di parkiran pasar dan dia menyelinap ke rumah Lasmiah. Rupanya petugas ronda curiga, kok ada sepeda motor di parkir tengah malam di pasar. Begitu ada orang mendekati motor tersebut, langsung saja ditangkap dan diperiksa, karena dicuri mau mencuri. Ternyata nama di STNK sama dengan KTP Saniman. Berarti dia memang pemiliknya. Tapi kenapa tengah malam orang Jetis yak-yakan sampai Minggir segala? Setelah didesak, akhirnya Saniman mengaku bahwa habis kelonan dengan Lamiah. Wah, wah, urusan tentu saja jadi memanjang ke kantor polisi. Dalam pemeriksaan keduanya mengakui, menjalin hubungan sejak 6 bulan lalu, dan hubungan intim biasa dilakukan kalau tak di rumah ya di hotel. Dibawa ke hote, Lasmiah dedel duwel.sumber;pos kota

Minggu, 12 April 2015

Kepergok Hubungan Intim Dengan PNS Perhubungan

PEKERJAAN pegawai Dinas Perhubungan biasanya erat dengan angkutan umum. Tapi di Medan, Tobias, 32, pekerjaannya malah “mengangkut” bini orang ke hotel. Ujungnya bisa ditebak, PNS Perhubungan itu kemudian mengajak hubungan intim si Nina, 22, yang muda dan cantik. Akan tetapi…… Karena motif ekonomi, banyak perempuan muda dan cantik mau dikawini lelaki tua bangkotan, yang lebih pantas jadi ayahnya. Biarlah suami sudah tua dan ompong peot, yang penting duitnya banyak. Jika suami cepet mati, bisa kawin lagi dengan menggulung sejumlah warisan. Nina warga Rambung, Binjai, juga menikah dengan lelaki yang sudah kadaluwarsa. Bayangkan, dia sekarang usia empat pelita lebih sedikit, sedangkan Sukanto suaminya hampir kepala lima. Ini kan seperti bapak sama anak saja. Kenapa Nina mau dinikahinya? Ya karena soal materi itu tadi. Sukanto bisa memberikan apa saja yang belum pernah dimiliki Nina, karena dia memang dari keluarga miskin. Perlu diketahui, sesungguhnya Sukanto ini memang pejuang selangkangan. Dia tukang kawin cerai. Berkat kekayaannya, semua ambisinya bisa dipenuhi. Dia memang kuat dionderdil, tapi juga kuat dimateril. Jadi klop! Sedangkan kebanyakan orang, hanya kuat dionderdil, tapi dari sisi materil dia sangat lemah sekali/ Awalnya Nina dimanjakan oleh Sukanto. Tapi setelah kenyang menikmati tubuh mulus istrinya, dia mulai jarang ke rumah di Rambang. Mungkin Sukanto sedang berburu wanita mulus lainnya lagi. Dan Nina yang sudah kadung menikmati kehidupan suami istri, jadi cotho dan kaco begitu Sukanto berminggu-minggu tidak menyentuhhnya. Bagi wanita cantik model Nina, mudah saja menjerat lelaki iseng yang hanya butuh kehangatan malam. Lelaki yang kini jadi gebedannya tersebut adalah Tobias, PNS di Dinas Perhubungan Medan. Begitu lihat Nina, Tobias memang langsung terpesona, sebab wajah dan bodinya sangat menjanjikan. Cantik, kulit putih dan bodi sekel, kalau dikupas pasti mirip singkong siap rebus. Demikianlah, PNS Perhubungan ini kemudian sering mengajak Nina berhubungan intim di hotel. Lama-lama ulahnya tercium oleh Sukanto. Meski dia sendiri sudah kurang memperhatikan Nina, tapi ketika mendengar “aset”-nya dijarah orang, tentu saja tidak terima. Karenanya kini gerak-gerik istrinya selalu diwaspadai. Setiap hari Nina selalu dibuntuti, dan kemudian dia melihat dengan kepala sendiri, istrinya pergi naik motor dengan seorang lelaki bersepeda motor plat merah. Ternyata menuju ke sebuah hotel yang terletak di KM 15 Jalan Medan Binjai, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara. Dia segera lapor polisi setempat, minta dilakukan penggerebekan. Karena urusan polisi banyak, tidak bisa serta merta berangkat. Dan benar saja, saat masuk ke hotel, agaknya Nina dan gebedannya sudah selesai dengan urusannya. Sebab ketika digedor paksa, baik Nina maupun Tobias sudah berpakain lengkap. Pasal perzinaan mungkin bisa dinafikan, tapi melarikan bini orang juga ada sanksi hukumnya. Maka Sukanto pun mengusung pasal itu untuk menjerat istri dan gendakannya. Kalau nggak buru-buru digerebek, mungkin Tobias mau nambah. SUMBER; POS KOTA

Jumat, 10 April 2015

Tanah Angelina Sondakh yang Dilelang KPK di Bali Belum Laku

KUTA UTARA, - Sebidang tanah kosong milik Angelina Sondakh (Angie) yang dilelang KPK terkait kasus suap Wisma Atlet belum juga laku. Tanah seluas 1.000 m2 ini berada di Jalan Pantai Nelayan, Desa Adat Canggu, Kuta Utara, Badung, Bali. Lokasi tanah sitaan KPK yang tidak jauh dari Pantai Nelayan, hingga Kamis (25/12/2014) hari ini, masih belum ada peminat. “Sampai saat ini sih belum ada yang melihat. Saya kan disuruh mengawasi lahan ini, kebetulan rumah saya berdekatan. Jangan ada yang membangun, sekarang sudah dilelang, tapi belum ada yang melihat-lihat untk membeli,” kata Nyoman Rudi yang rumahnya tak jauh dari tanah Ange di Kuta Utara, Badung, Bali, Kamis. Nyoman Rudi menambahkan, Angie membeli tanah ini sekitar 3 tahun lalu dengan harga masih murah. Harga tanah waktu itu hanya Rp 500 juta per are (100 m2). Harga saat ini diperkirakan Rp 1,2 miliar per are. Jika dijual normal dengan luas 1.000 m2, harganya bisa mencapai Rp 12 miliar, sementara lelang dari KPK Rp 8,1 miliar. Di kawasan jalan Nelayan ini, banyak ditemui bangunan vila mewah. Bahkan tak jauh dari tanah Ange yang dilelang sudah berdiri bar yang banyak dikunjungi wisatawan asing. SUMBER; KOMPAS

KPK Lakukan Tangkap Tangan Kader PDI-P saat Kongres di Bali

Politisi PDI Perjuangan Eva Sundari membenarkan bahwa ada kadernya yang ditangkap tangan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. Ia mengatakan, kader tersebut berasal dari Maluku. "Benar (kader PDI-P) dari Maluku," ujar Eva saat dihubungi, Jumat (10/4/2015) dini hari. OTT dilakukan pada saat Kongres PDI-P di Bali dilakukan. Eva mengaku hanya satu kadernya yang ditangkap oleh KPK. Padahal, berdasarkan informasi yang dihimpun, objek tangkap tangan KPK di Kongres PDI-P lebih dari satu orang. Saat dikonfirmasi, pimpinan sementara KPK Johan Budi tidak membenarkan mau pun membantah adanya operasi tangkap tangan tersebut. "Nanti akan dijelaskan setelah semuanya," ujar Johan. Namun, Johan enggan menjelaskan lebih lanjut mengenai operasi tersebut. Hingga saat ini, belum ada pernyataam resmi dari pihak KPK terkait operasi tangkap tangan tersebut. Menurut sumber Kompas.com, OTT dilakukan di sebuah hotel di Sanur, Bali. Disebutkan, OTT tersebut diduga menangkap seorang anggota Dewan, ada juga seorang perwakilan dari PN Jakarta Selatan. Dalam OTT tersebut, diduga anggota Dewan itu berusaha menyuap anggota PN Jaksel sebesar 40.000 dollar AS. Direncanakan pada pagi ini para tersangka akan dibawa ke Jakarta.sumber; kompas

Kamis, 09 April 2015

Kanit Buser Polres Dibekuk, Sedang Buru Sergap Polwan

KALI ini wooo, seru habis! Istri polisi bernama Brigadir Mardiah, 30, kedapatan mesum dengan Kanit Buser, Bripka Firman. Mardiah memang polwan cantik, sehingga polisi tukang buru sergap itu tak merasa rugi memburu dan menyergap anak buahnya sendiri. Paling seru, saat digerebek keduanya sedang bugil. Makin banyaknya sepeda motor masuk kampung, kini di jalanan kampung di mana-mana dipasangi polisi tidur. Kaum pengendara mobil dan motor pun mengeluh, kenapa rakyat begitu royal pasang polisi tidur. Kalau polwan cantik yang tidur, nggak apa-apa. Konsumen pasti sangat antusias menyaksikannya, siapa tahu dapat “rejeki” pemandangan seronok. Brigadir Mardiah yang bertugas sebagai anggota lantas Polres TTS (Timur Tengah Selatan), memang cantik. Dengan seragam polrinya, nampak cantik. Pakai jilbab pun di mana sekarang dibolehkan, juga tambah cantik. Cuma, jika jilbab dipadu dengan helm karena sesuai peraturan lalulintas, apakah sepintas lalu tidak nampak seperti thokolan (bibit kecambah). Mardiah tak sampai seperti itu. Dan karena kecantikannya pula, dia menikah dengan kalangan dalam sendiri, sesama anggota Polri. Saking cantiknya sang polwan, sampai-sampai ada oknum Kanit Buser yang nafsu juga terhadapnya, tak peduli dia sudah punya suami. Celakanya, Mardiah juga menanggapi saja aksi tak terpuji atasannya itu. Maka yang terjadi kemudian, di kala situasinya sangat kondusif, Mardiah suka melayani kebutuhan biologis Bripka Firman. Selama ini perselingkuhan itu berjalan aman-aman saja, karena keduanya memang mahir mengemas aksi mesumnya. Cuma karena belum pernah ketanggor, di rumah asrama pun Mardiah berani melayani Firman melepas syahwat. Tapi yang terjadi beberapa hari lalu sungguh memalukan. Saat Firman – Mardiah sedang dilamun asmara penuh dosa, suaminya pulang. Mendengar suara desah-desah mencurigakan di kamar, suaminya segera mengajak sejumlah polisi untuk menggerebeknya. Betul juga, saat pintu dibuka, Firman dan Mardiah sedang berhubungan intim dalam kondisi bugil bin gidal-gidul. Begitu kepergok Firman langsung kabur, sedangkan Mardiah jadi urusan lembaganya. Nasib Brigadir Mardiah bisa ditebak, bakal kena sanksi dari polri. Belum lagi sanksi dari suami, dengan resiko dapat gelar baru janda, karena bisa saja langsung cerai. Ini baru benar-benar jeruk “makan” jeruk.

'Sarapan cinta' teman selingkuh di KRL pagi

Gelap masih menyelimuti langit, samar-samar pagi masih mengintip. Jarum pendek jam berhenti di tengah angka lima dan enam. Di peron Stasiun Bekasi, ratusan pasang kaki sudah bersiaga menunggu kereta listrik (KRL) commuter line. Semuanya serba terburu. Saban hari kondisi serupa terjadi. Bermula dalam pertemanan di gerbong kereta yang penuh sesak, ternyata bisa berakhir menjadi perselingkuhan. Seperti dialami pria berinisial Al. Dia memiliki pengalaman berkencan dengan pengguna commuter line setahun terakhir. Kisahnya berawal di gerbong kelima kereta yang dinaiki pria ini. Al tak sengaja bertemu dengan seorang karyawan wanita kantor swasta di bilangan Jakarta Pusat. Rutinitas paginya, naik kereta listrik commuter line dari Stasiun Bekasi lalu turun di Stasiun Jakarta Kota. Al bercerita, setiap berangkat kerja cincin pernikahan selalu ditaruh di kantong kemejanya. Al selalu dapat duduk di bangku deretan tengah gerbong rangkaian kereta. Stasiun Bekasi memang urutan pertama dalam jurusan commuter line Jabodetabek untuk relasi Bekasi-Jakarta Kota. Namun, dia selalu duduk dengan seorang penumpang wanita itu-itu saja. "Siapa yang enggak tahan lihat cewek cantik depan mata," ujarnya saat berbincang dengan merdeka.com di Jakarta pekan lalu. Alkisah, suatu pagi suara pengeras suara petugas di dalam kereta commuter line terdengar dari dalam gerbong. Al sudah berada di dalam kereta. Saat kereta berhenti dengan cepat diiringi decit bunyi rem kereta api, calon penumpang berebut tak keruan. Pria dan wanita tak kalah saling sikut buat dapat tempat duduk. Di Stasiun Kranji itu, seorang wanita dengan rok di atas lutut hampir 20 sentimeter masuk ke dalam kereta, berdiri di depan AI. Pakaiannya menggoda, blazer berwarna abu-abu dengan dalaman hitam. Mata Al terpesona. Tak ragu lagi, tempat duduknya itu lalu diberikan secara ikhlas kepada si penumpang tadi. Sebagai seorang lelaki, kata dia, hal itu menjadi hal lumrah merelakan tempat duduknya buat seorang wanita cantik, tak ada niat apa pun. "Sampai Kranji enggak lama, soalnya stasiun kedua, dia berdiri di depan saya, itu pertama kali ketemu," kata Al. Mereka berdua sama-sama turun di Stasiun Cikini. Pria berumur 31 tahun itu bekerja pada instansi kementerian di kawasan Jakarta Pusat. Kehidupannya mapan, mempunyai kendaraan pribadi, namun Al lebih memilih naik transportasi umum. "Sehari lihat, besoknya dia lagi, ketemu di gerbong yang sama," ujar bapak satu anak itu. Al menunjukkan sebuah foto wanita cantik berbusana rok lengkap dengan chat-chit mesra pada Blackberry. Hubungan mereka berdua sudah hampir berjalan sepekan. Perkenalannya mulai akrab. Berawal dari ucapan terima kasih atas kebaikan Al memberi tempat duduk, akhirnya bisa berujung bertukar nomor telepon sampai PIN Blackberry. "Kenal. Setiap hari ketemu kasih bangku, hampir seminggu kayak begitu (desakan lalu memberi tempat duduk)," katanya. Sampai beberapa bulan terakhir ini komunikasi keduanya mulai intensif dengan kekasih gelapnya itu. Secara pribadi Al mengetahui latar belakang teman wanitanya itu sudah bersuami. Dia mengaku lebih mendapat perhatian dari teman selingkuhnya itu daripada dari istri di rumah. Biasanya, istri di rumah saban hari selalu memberi AI bekal sarapan cuma sepotong roti. Tetapi kini, sarapan cinta sekotak nasi goreng selalu diselipkan di dalam tas kerjanya khusus dari wanita gelapnya itu. "Kalau dari yang di rumah (istri) cuma dapat roti doang, sekarang sarapan pagi bisa makan kenyang," ujarnya sambil tertawa bercerita. Sampai kini, hubungan antara AI dan kekasihnya itu masih aman-aman saja. Bermula dari desakan di dalam kereta, memberi tempat duduk, tukeran nomor handphone, kini AI punya selingkuhan. Biasanya cuma sarapan roti tiap pagi, kini mendapat jatah sarapan sekotak nasi dari teman selingkuhannya itu di kereta.sumber; merdeka

Selasa, 07 April 2015

Penghasilan Pria Lebih Kecil ketimbang Wanita, Potensi Selingkuh Lebih Besar

Kesetaraan peluang kerja dan emansipasi dalam berkarier mencetak sejumlah wanita yang memiliki penghasilan besar. Namun, kehadiran para wanita sukses ini ternyata berdampak kurang baik pada suhu serta kualitas hubungan bersama pasangan. Tak bisa dimungkiri bahwa pria terlahir dengan sifat-sifat maskulin dan hasrat untuk memimpin. Salah satunya adalah menjadi pemimpin dan penjaga pasangan masing-masing. Nah, kondisi tersebut bakal terbentuk optimal ketika penghasilan pria mampu mencukupi kebutuhan keluarga dan diri sendiri. Namun, bagaimana jika yang terjadi adalah wanita yang memiliki penghasilan lebih besar? “Memperoleh penghasilan lebih rendah dari wanita membuat pria merasa terancam dan kehilangan identitas dalam hubungan. Secara alamiah, pria tercipta sebagai pemimpin keluarga,” terang Christin Munsch, seorang doktor jurusan sosiologi di Cornell University. Pada acara American Sociologicial Association, Munsch menjelaskan bahwa teori pria berpenghasilan lebih kecil dari wanita lebih mungkin selingkuh, terbukti pada budaya orang hispanik. “Sisi maskulin seorang pria dalam kebudayaan latin dinilai dari jumlah penghasilan pria. Jadi, ketika istri berpenghasilan lebih tinggi, potensi suami berselingkuh sangat besar,” ujar Munsch. Selanjutnya, studi juga menyatakan bahwa wanita berpenghasilan lebih besar juga memiliki potensi selingkuh, tetapi kemungkinannya sangat kecil. Pasalnya, pemicu wanita berselingkuh bukan karena materi atau pun ego yang terluka, melainkan lebih ke faktor emosional dan kurang perhatian.sumber;kompas