Minggu, 28 Juni 2015

Tepergok ngamar di hotel, PNS ngaku bareng istri siri

Polsekta Banjarmasin Tengah kembali melakukan razia selama ramadan dengan sasaran pasangan mesum yang menginap di kamar hotel. Kali ini, dalam razia tersebut, mendapati seorang oknum PNS bersama pasangannya yang dinikahinya secara siri. "Saat razia kami mengamankan oknum PNS bersama pasangannya yang pengakuannya pasangan itu dinikahinya secara siri, dan oknum tersebut sudah beristri yang dinikahinya secara sah secara hukum," ucap Kapolsekta Banjarmasin Tengah Kompol Uskiansyah melalui Kanit Sabhara IPDA Pol Abdurrahman di Banjarmasin, Minggu (28/6). Seperti diberitakan antara, oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) bersama pasangannya terjaring saat polisi sedang melakukan pemeriksaan di Guest House Samudera yang berlokasi di Jalan Samudera Banjarmasin Tengah. Di kamar oknum tersebut, polisi juga menemukan satu botol minuman keras jenis mension. Usai terjaring razia oknum tersebut nampak pasrah dan ikut digiring ke Polsekta Banjarmasin menggunakan mobil patroli yang digunakan dalam razia tersebut. Untuk inisial oknum PNS itu sendiri diketahui ER (43) pekerjaan PNS warga Jalan Kota Raya Amuntai dan pasangannya berinisial SW (35) pekerjaan pedagang warga Jalan Kota Raya Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan. "ER bertugas disalah satu kantor dinas yang ada di Kota Amuntai dan ia terjaring razia sekitar pukul 02.00 WITA, Minggu (28/6) dini hari," ujar dia. Selain oknum PNS itu, polisi juga menciduk empat pasangan mesum yang bukan suami-istri dari beberapa hotel yang ada di wilayah hukum Polsekta Banjarmasin Tengah. Pasangan mesum yang terjaring di antaranya berinisial NS (49) perempuan, ibu rumah tangga warga Purnawirawan Komplek Lambung Mangkurat Kota Banjarbaru bersama pasangan MA (34) karyawan swasta warga Jalan Jahri Saleh Komplek Jafri Zam-Zam Kota Banjarmasin. Selanjutnya, RM (24) warga Jalan Karang Paci bersama pasangannya NH (19) perempuan, warga Jalan Perindustrian, kedua sama-sama tinggal di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kemudian, AS (25) Wiraswasta warga Jalan Ahmad Yani dan pasangan NN (34) perempuan, ibu rumah tangga warga Jalan Sutoyo S Banjarmasin, serta MJ (24) swasta, warga Jalan Palam Sungai Rancah kota Banjarbaru dan pasangannya LS (28) perempuan, swasta, warga Jalan Belda Gang Swadaya kota Banjarmasin. Semua pasangan yang diduga melakukan perbuatan mesum didalam kamar hotel itu akan dilakukan pendataan dan bila memasuki unsur tindak pidana ringan (Tipiring) maka akan di sidangkan. "Razia dengan sasaran hotel ini kami lakukan sebagai bentuk untuk menjaga dan mengantisipasi kejahatan di dalam kamar hotel dan sekaligus mencari pelaku-pelaku tindak pidana yang buron dan sembunyi di kamar hotel dan kegiatan ini sekaligus cipta kondisi Bulan Ramadhan," pungkas dia. sumb; merdeka

Jumat, 26 Juni 2015

Minta pesugihan, ibu ini malah dicabuli dukun bejat berulang kali

Merasa dihipnotis sekaligus takut, RS (41) seorang ibu rumah tangga warga Kelurahan Labuh Baru Timur, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru, diminta untuk berposisi menungging dan pasrah ketika tubuhnya disetubuhi oleh dukun cabul inisial AH (51) warga Kubang Raya, Kabupaten Kampar, Riau. RS yang tak tahan lagi dengan aksi bejat sang dukun cabul yang setiap kali korban pergi berobat dengan suaminya selalu menyetubuhi tubuhnya, akhirnya melapor ke Polresta Pekanbaru. "Korban melaporkan dugaan pencabulan tersebut setelah beberapa kali mengaku mengalami tindakan pencabulan oleh terlapor (AH)," ujar Kabid Humas Polda Riau AKBP Guntur Aryo Tejo, kepada merdeka.com Kamis (25/6). Menurut Guntur, penyidik Satreskrim Polresta Pekanbaru sudah memeriksa saksi korban dan suaminya untuk dimintai keterangannya terkait pengaduan dan laporan polisi yang diterima. "Berdasarkan dari keterangan korban, bahwa pelaku sudah beberapa kali diduga melakukan tindak pidana pencabulan, pada saat menjalani pengobatan spritual dengan pelaku," jelas Guntur. Kepada polisi, korban mengatakan peristiwa tersebut pertama kali terjadi Sabtu (13/6) lalu sekitar pukul 23.30 WIB. Korban bersama suaminya pergi ke rumah pelaku dengan maksud hendak menambah perekonomian keluarganya dengan cara bantuan spritual melalui dukun AH. "Dalam kesepakatan korban dengan pelaku, kalau korban dan suaminya harus dibersihkan raganya dengan cara dimandikan dengan air kembang yang telah disajikan pelaku, dan mandi kembang itu harus dilakukan pada tengah malam yang telah ditentukan pelaku," terangnya. Namun setelah waktu yang ditentukan tiba, korban pun akhirnya dimandikan oleh pelaku. Setiap kali dimandikan, korban selalu berdua dengan pelaku tanpa didampingi suaminya. Bahkan, korban mengaku tidak sadar saat diminta untuk melayani nafsu sang dukun. "Setiap kali korban akan dimandikan kembang, pelaku diduga dengan sengaja menjauhkan korban dengan suaminya," kata Guntur. Saat akan memandikan, pelaku meminta korban melepaskan celana dalam korban dan kemudian korban diminta dengan posisi menungging. Dalam kondisi dan posisi seperti itulah, pelaku melakukan hubungan badan dengan korban yang saat itu hanya mengikuti kemauan pelaku. "Korban mengaku perbuatan tersebut sudah beberapa kali dilakukan pelaku setiap kali korban dan suaminya pergi berobat ke rumah pelaku di daerah Kubang Raya, Kabupaten Kampar," ucap Guntur. Curiga dengan aksi pelaku yang terus-terusan mencabulinya, korban pun merasa tidak tahan hingga akhirnya kasus dugaan pencabulan tersebut pun dilaporkan ke Polresta Pekanbaru.sumb merdeka

Kamis, 25 Juni 2015

Pergoki Suami Selingkuh, Istri Dikepruk Kipas Angin

SURABAYA - Vivin,26, warga Desa Pagerwojo, Kecamatan Perak, Jombang Jawa Timur melaporkan suaminya, Sul,39 ke Polisi. Pasalnya, ia tidak terima karena dikepruk menggunakan kipas angin hingga memar dibagian dahinya. Kepala Sub Bagian Humas Polres Jombang AKP Gatot Mustofa menjelaskan, laporan dari korban sudah diterima pihak kepolisian. Dalam laporan itu menyebutkan, awalnya korban memergoki sang suami tengah bersama dengan wanita lain. Meski dibakar api cemburu, Vivin masih bisa menahan diri. Namun selang beberapa hari, warga Pagerwojo ini kembali memergoki kejadian serupa. Ia melihat sang suami berboncengan dengan wanita lain di jalan. Seperti bensin tersulut api, emosi Vivin langsung meledak. Korban yakin, sang suami telah mendua. Nah, saat Sul kembali ke rumah, ia langsung memberondongnya dengan pertanyaan seputar wanita lain yang bersama sang suami. Bukannya memberi penjelasan, pelaku justru mengedepankan emosi. Berawal dari perang mulut, berubah menjadi kekerasan fisik. Sul kemudian mengambil kipas angin yang tergeletak di meja. Perangkat elektronik itu dihantamkannya ke kepala sang istri. Akibatnya, Vivin terhuyung dan dahi kirinya seketika memar karena hantaman benda tersebut. Melihat istrinya tak berdaya, Sul malah bergegas meninggalkan rumah. Setelah berkonsultasi dengan keluarga lainnya, korban yang tak terima kemudian melaporkan kasus KdRT itu ke Polres Jombang. “Setelah kita mintai keterangan, korban menjalani visum. Selanjutnya, kita segera memanggil pelaku guna mempertanggungjawabkan perbuatannya. Jika terbukti bersalah, pelaku kita jerat dengan UU Kekerasan dalam Rumah Tangga,” pungkas Gatot, SUMB; POS KOTA

Jumat, 19 Juni 2015

ASAL- USUL NAMA ORANG BALI ; WAYAN, MADE, NYOMAN, KETUT

Jika Anda sedang berada di Bali, Anda tentu sering mendengar nama-nama khas Bali mulai Wayan, Made, Nyoman, Ketut, Ida Bagus, dan sebagainya. Semua nama itu ternyata ada artinya. Kita mulai dulu dengan sebutan I dan Ni pada nama-nama orang Bali. Huruf I di depan nama Wayan misalnya, adalah kata sandang yang bermakna laki-laki. Sementara kata sandang penanda kelamin perempuan adalah Ni. I dan Ni juga bermakna seorang lelaki dan wanita dari keluarga masyarakat kebanyakan, tidak berkasta atau biasa disebut orang jaba. Jika ia terlahir di keluarga penempa besi, maka orang Bali ini bernama Pande. Bila di depan Wayan gelarnya Ida Bagus, ia tentu terlahir di keluarga Brahmana. Ida Bagus berarti yang Tampan atau Terhormat. Jika saja ia digelari Anak Agung, maka ia lahir di keluarga bangsawan. Nama Wayan berasal dari kata “wayahan" yang artinya yang paling matang. Titel anak kedua adalah Made yang berakar dari kata "Madia" yang artinya tengah. Anak ketiga dipanggil Nyoman yang secara etimologis berasal dari kata "uman" yang bermakna “sisa” atau “akhir”. Jadi menurut pandangan hidup orang Bali, sebaiknya sebuah keluarga memiliki tiga anak saja. Setelah beranak tiga, kita disarankan untuk lebih “bijaksana”. Namun zaman dahulu, obat herbal tradisional kurang efektif untuk mencegah kehamilan, coitus interruptus tidak layak diandalkan, dan aborsi selalu dipandang jahat, sehingga sepasang suami istri mungkin saja memiliki lebih dari tiga anak. Anak keempat gelarnya Ketut. Ia berasal dari kata kuno "Kitut" yang berarti sebuah pisang kecil di ujung terluar dari sesisir pisang. Ia adalah anak "bonus" yang tersayang. Karena program KB yang dianjurkan pemerintah, semakin sedikit orang Bali yang bernama Ketut. Itu sebabnya ada kekhawatiran dari sementara orang Bali akan punahnya sebutan kesayangan ini. Menurut situs balirustique.com, orang Bali memiliki sebuah tabu atau pantangan bahwa petani tidak boleh menyebut kata tikus, yang di Bali disebut bikul, jika sedang ada di sawah. Menyebut tikus di sawah, dipercaya bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu jika sedang di sawah, orang memanggilnya dengan julukan spesial ” Jero Ketut”. Ia bermakna tuan kecil. Ini berangkat dari pandangan bahwa tikus bagimanapun juga adalah bagian dari keseimbangan alam. Bila keluarga berencana gagal, dan sebuah keluarga memiliki lebih dari empat anak, maka mulai dari anak kelima, orang Bali mengulang siklus titel di atas. Anak kelima bergelar Wayan, keenam Made, dan seterusnya. Namun jika bicara lebih rinci, ketiga titel hirarki kelahiran orang Bali memiliki sinonim; untuk Wayan: Putu, Kompiang, atau Gede; untuk Made: Kadek atau Nengah; untuk Nyoman: Komang. Sementara nama Ketut yang istimewa tak bersinonim. Seperti orang Jawa, orang Bali tidak memiliki nama marga atau nama keluarga (family name). Jadi kalau dilihat dari kaca mata orang barat, orang Bali hanya memiliki first name tanpa family name. Konon ini memudahkan orang untuk menyamar di waktu perang. Bahkan bila terpaksa, setelah kekalahan militer, seorang bangsawan bisa mengaku sebagai orang kebanyakan. Dan seluruh keturunannya pun terpaksa memakai titel I atau Ni. Meski tidak mengenal nama marga atau fam, ada juga orang Bali yang yang turun temurun dengan jelas menambahkan nama marga atau sub marga sepeti Dusak, Pendit, dan lain lain di belakang nama depan . Misalnya saja (hanya rekayasa), Wayan Sujana Pendit. Di jaman modern ketika nama keluarga jadi penting untuk urusan paspor atau kalau tinggal di luar negeri, beberapa keluarga Bali yang progresif membuat nama marga baru yang biasanya diambil dari nama seorang ayah yang berpendidikan tinggi dan “sukses”. Banyak hal yang berubah di Bali sejak kemerdekaan Indonesia. Bila di zaman dulu orang menamai anaknya sekehendak hati, sering tanpa arti, atau hanya onomatope, di zaman sekarang ini, orang-orang mulai ramai memakai nama yang berasal dari bahasa Sanskerta. Ada juga nama orang Bali kini yang sudah 'bernuansa' barat seperti misal I Ketut Bobby atau Ni Luh Ayu Cindy. Sumber :berita
bali

Rabu, 17 Juni 2015

Istri Kedua Memotong Penis Suaminya

[LAMPUNG] Penis Endang (49), warga Pemangku Utama II Pekon Puralaksana Kecamatan Waytenong Kabupaten Lampung Barat, dipotong oleh istri keduanya. Kini Endang dirawat di Rumah Sakit Handayani Kotabumi, Lampung Utara. Informasi dari pihak RS Handayani di Kotabumi, Rabu (17/6), menyebutkan, korban yang dipotong alat kelaminnya oleh istrinya sendiri pada Selasa (16/6) dirujuk keluarganya ke RS Handayani Kotabumi. Endang tiba di RS Handayani sekitar pukul 05.00 WIB dan telah mendapatkan perawatan medis dari pihak rumah sakit. Korban hingga saat ini masih terbaring lemah di ruang Dahlia 8 RS tersebut. Menurut Budiman (42), adik ipar korban, ketika ditemui di rumah sakit, keluarga besarnya tidak mengetahui secara pasti motif Endah (istri kedua korban) memotong penis suaminya itu. "Informasinya, kejadian itu pada Senin (15/6) sekitar pukul 03.00 WIB, karena warga mendengar suara teriakan meminta tolong dari kakak saya itu," ujarnya. Setelah mendengar suara teriakan tersebut, warga pun bergegas mendatangi sumber suara dari kediaman korban. "Saat itu, warga sempat melihat istri kakak saya itu (Endah) keluar dari kamar. Warga melihat darah berceceran di kamar dan terdapat senjata tajam berupa golok berada di lantai yang telah belumuran darah. Lalu warga mengantarkan korban menuju puskesmas," kata Budiman. Menurut dia, dalam hubungan keluarga selama ini tidak terdapat hal-hal yang menunjukkan keretakan rumah tangga korban dengan istrinya. "Hingga saat ini istri kedua kakak saya itu tidak diketahui keberadaannya dan masih dicari oleh polisi. Kakak saya belum mau berbicara dan kondisinya pun masih belum membaik, serta saran dari dokter agar kakak tidak diganggu dahulu saat ini," ujarnya. Pihak keluarga akan menyerahkan perkara tersebut kepada pihak yang berwajib. "Semua kami serahkan dengan pihak yang berwajib, dan langkah kami sekarang berharap kesembuhannya dulu," katanya. Menurut korban Endang (49) saat kejadian itu, dia sedang tertidur lelap. Namun mendadak dia terbangun akibat rasa sakit yang luar biasa terasa di pangkal pahanya. Belum sempat menyadari penisnya sudah terpotong, Endah (istri kedua korban) sudah menyerangnya membabi-buta. Amukan Endah baru berhenti setelah warga yang mendengar suara gaduh karena meminta tolong, berdatangan untuk melerai. Endang dilarikan ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas Rawat Inap Fajar Bulan. Namun, kesempatan itu digunakan Endah untuk kabur. Selain kehilangan penisnya, Endang juga mengalami sejumlah luka bacok di wajah, kepala, dan jarinya. Kepala UPT Puskesmas Fajar Bulan, M. Aminuddin mengungkapkan korban datang ke puskesmas serta langsung masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) untuk mendapatkan penanganan tim medis secara intensif. "Dia sempat kami berikan penanganan medis. Namun, potongan alat kelamin korban tidak ditemukan. Petugas medis kami berupaya menghentikan darah yang terus keluar serta menangani luka-luka yang ada di wajah dan jarinya," kata Aminuddin. Dia menjelaskan, kondisi fisik korban terbilang bagus. Korban tetap sadarkan diri, meskipun alat kelamin terpotong hingga pangkal. Luka-luka yang dialami korban juga telah mendapatkan penanganan medis, yakni luka di dekat kening kiri sepanjang 3 cm, bagian kepala kiri 1,5 cm, dan jari manis tangan kiri luka robek sepanjang 2 cm. Belum diperoleh keterangan resmi dari pihak kepolisian setempat atas kasus istri kedua potong alat kelamin suaminya itu. SUMB; SUARA PEMBAHARUAN

Selasa, 16 Juni 2015

Dosen cantik Indonesia ini mirip artis Korea Selatan

Seorang dosen wanita bernama Hyun Sun yang mengajar di Universitas Guangdong, Korea Selatan beberapa waktu lalu menjadi pusat pemberitaan di negeri ginseng itu karena kecantikannya. Selain cantik, postur tubuhnya yang seperti seorang model kerap membuatnya disamakan dengan artis Korea Selatan. Tidak jauh berbeda dengan Hyun Sun, di Indonesia, khususnya di Universitas Multimedia Nusantara, juga ada dosen cantik yang juga sering disamakan dengan artis Korea Selatan. Dosen tersebut bernama Dini Fronitasari. Wanita yang menempuh jenjang S2 teknik elektro di Universitas Indonesia ini mengajar mata kuliah kalkulus. Berdasarkan informasi Linkedin miliknya, ibu satu anak ini mengajar di Universitas Multimedia Nusantara sejak Januari 2014. Di media sosial sendiri, khususnya di Instagram, nama Dini Fronitasari cukup populer. Hingga Senin (15/6), akun Instagram miliknya, @dinifsr telah memiliki followers hingga 21.664.
Pada salah satu foto yang diunggahnya, Dini tampak berpose dengan mahasiswanya. Foto tersebut diambil saat kelas terakhir semester. "Last calculus 2 #fakultas ICT UMN. Mohon maaf kalau ada salah dalam mengajar. Sukses buat kalian semua mahasiswaku," tulis Dini.sumber; merdeka

Senin, 15 Juni 2015

Warga Kecam Tarian Seronok di Acara Kenaikan Kelas SD

JEMBRANA - Acara kenaikan kelas di SDN 5 Tukadaya, Desa Tukadaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, menyulut kemarahan masyarakat karena acara itu diisi joget bungbung seronok dan porno. Kecaman masyarakat terlontar setelah foto-foto goyang seronok dalam acara pada Sabtu 13 Juni 2015 itu diunggah di media sosial Facebook. Masyarakat kesal karena pihak sekolah membiarkan joget bungbung yang penarinya perempuan dewasa dengan goyangan seronok ditonton para siswa. Parahnya lagi, siswa-siswa SD itu dibiarkan ikut ngibing (menari) bersama penari dewasa dengan goyangan panas. "Kepala sekolah dan guru-guru serta komite sekolah harus bertanggung jawab. Itu kegiatan gila. Sama saja sekolah telah mengajarkan hal tidak moral kepada siswa,” kata Nur Hariri, warga Jembrana sekaligus tokoh LSM yang akrab disapa Akong kepada wartawan, Senin (15/6/2015). Dinas Pendidikan dan DPRD Jembrana harus memanggil pihak kepala dan komite sekolah guna mempertanggungjawabkan kegiatan tidak pantas itu. Dia juga meminta petugas menindaklanjuti masalah ini karena mengarah pada tindak pidana yakni mempertontonkan aksi seronok atau porno yang bisa merusak moral anak-anak. Hingga kini pihak SDN 5 Tukadaya dan pihak komite sekolah belum bisa dimintai konfirmasi terkait masalah tersebut.SUMBER MERDEKA